HAKEKAT PENGUKURAN DAN PENILAIAN DALAM PENDIDIKAN

Setiap orang pada saat-saat tertentu harus membuat keputusan pendidikan, yaitu keputusan yang berkaitan dengan soal pendidikan, baik yang menyangkut diri sendiri ataupun orang lain. Keputusan-keputusan semacam ini dapat mempunyai ruang lingkup yang besar, seperti misalnya keputusan seorang Menteri Pendidikan dan kebudayaan tentang penerapan sistem baru dalam penyelenggaraan pendidikan, atau keputusan seorang Rektor tentang nilai batas lulus calon-calon mahasiswa, dapat pula mempunyai ruang lingkup yang kecil, seperti misalnya keputusan seorang ibu tentang perlu atau tidaknya mengharuskan anaknya belajar secara tetap setiap malam atau putusan seorang mahasiswa mengenai mata kuliah pilihan mana yang akan diambilnya pada suatu semefter.

Untuk dapat dicapainya keputusan yang baik diperlukan informasi yang lengkap dan tepat. Informasi semacam ini akan diperoleh melalui pengukuran dan penilaian pendidikan.

Pengumpulan, pengolahan, pengaturan dan penyajian informasi pendidikan melalui pengukuran dan perlilaian menjadi tugas dan tanggung jawab para pendidikan. Dalam pelaksanaannya para pendidik dapat memanfaatkan jasa profesi lain, seperti jasa ahli pengukuran dan ahli komputer. Sebelum membahas lebih mendalam tentang hakekat pengukuran dan penilaian dalam pendidikan lebih baik kita membuat rumusan pembahasan dulu yaitu

  1. Apakah yang dimaksud dengan pengukuran dan penilaian dalam pendidikan?
  2. Bagaimanakah peranan pengukuran dan penilaian dalam pendidikan?

Kemudian mengetahui tujuannya yaitu

  1. mengetahui makna dari pengukuran dan penilaian dalam pendidikan
  2. Untuk mendapatkan informasi mengenai peranan pengukuran dan penilaian dalam pendidikan

Setelah mengetahui rumusan dan tujuanya maka selanjutnya masuk kebagian pembahasan Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Assesment.

Pengukuran (measurement)

Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudijono, 1996: 3) Jika kita mengukur suhu badan seseorang dengan termometer, atau mengukur jarak kota A dengan kota B, maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mengkuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. Karenanya, dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif.

Data lain juga menunjukkan bahwa pengukuran adalah besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.

Sedangkan dalam dunia pendidikan, yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka, mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa.

Menurut Mardapi (2004: 14) pengukuran pada dasarnya adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu obyek secara sistematis. Karakteristik yang terdapat dalam obyek yang diukur ditransfer menjadi bentuk angka sehingga lebih mudah untuk dinilai. aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia seperti kognitif, afektif dan psikomotor dirubah menjadi angka. Karenanya, kesalahan dalam mengangkakan aspek-aspek ini harus sekecil mungkin. Kesalahan yang mungkin muncul dalam melakukan pengukuran khususnya dibidang ilmu-ilmu sosial dapat berasal dari alat ukur, cara mengukur dan obyek yang diukur.
Dalam bidang pendidikan usaha pengukuran biasanya melalui penyelenggaraan tes atau ujian. Alat – alat lain seperti daftar cek, skala ukuran, dan lain – lain, dapat juga dipakai untuk mengukur aspek – aspek yang sukar dengan mempergunakan tes atau ujian, ddan usaha penilaian ini dapat dilakukan dengan mempergunakan patokan – patokan pembanding yang berbeda – beda.

Contoh: Seorang guru yang memberikan  soal Matematika, dan seorang murid bernama Budi hanya bisa menyelesaikan  5 dari 10 soal yang ada.

Penilaian

Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. Bagi siswa sendiri, sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya.
Menurut Jamaris (2010:323), penilaian atau evalution  merupakan kegiatan yang bersifat rumit karena penilaian berkaitan dengan value. Dalam melakukan penilalian secara langsung akan melibatkan kegiatan dalam mempertimbangkan tentang objek yang dinilai. Oleh sebab itu, penilaian memerlukan informasi tentang objek yang dinilai, tujuan melakukan penilaian, prosedur dan standar penilaian.

 Penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. Melalui penilaian kita dapat menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Contoh: Seorang guru yang mengambil thermometer yang meminta muridnya mengukur temperatur badannya Adan  ia membaca bahwa temperatur badannya menunjukkan angka 30 derajat celcius. Kita baru mengetahui apakah anak tersebut sehat atau tidak setelah kita mengetahui makna dari angka 30 derajat celcius tersebut. Apabila suhu badan 30 derajat celcius adalah suhu badan sehat maka dapat dinilai bahwa anak tersebut sehat.

Assesment

Assesment merupakan proses yang dilakukan dalam kegiatan sistematis dalam  rangka mengumpulkan informasi tentang sesuatu, misalnya tentang perkembangan anak dan kemajuan belajar yang dicapainya. Dalam kegiatan assesment terkandung kegiatan mengukur dan menilai.

Dan pengukuran, penilaian dan assesment merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.

2.2  Jenis-Jenis Tes sebagai Alat Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar

Penialian Acuan Norma (PAN)

Dalam proses ini skor yang diperoleh seorang peserta tes akan dibandingkan dengan skor peserta lainnya. Diharapkan dengan dibanding maka dapat ditetapkankan apakah skor tersebut berada diatas skor rata-rata atau dibawahnya.

Namun terdapat kelemahan didalamnya, yaitu tidak dapat memberikan gambaran tentang kemampuan aktual siswa atau peserta tes yang sesungguhnya. Contoh, seorang siswa yang memiliki skor dengan posisi 25 % skor teratas disekolahnya, maka setelah dibandingkan dengan skor-skor siswa lainnya didaerah berubah menjadi 15 % skor teratas dan akan menjadi lebih baik apabila dibandingkan dengan skor siswa secara nasional. Siswa yang memiliki skor 15 % teratas secara nasional belum tentu telah menguasai materi tes dengan baik.

Panduan Acuan Patokan (PAP)

PAP merupakan cara penilaian yang mebandingkan skor tes siswa dengan standar yang telah ditetapkan.  Standar tersebut adalah pencapaian tujuan pembelajaran secara spesifik. Sehingga PAP dapat memberikan informasi yang jelas tentang kemampuan siswa secara aktual.

Sebagai contoh, tes yang dikembangkan bertujuan untuk untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap operasi matematika dengan menggunakan dua digit angka, maka dibuat tes sebanyak 20 soal dengan berbagai variasi yang menggunakan dua digit angka maka skor tertinggi adalah 20. Standar kelulusan adalah apabila siswa dapat skor 17, bila dibawahnya maka dinyatakan tidak lulus.

2.3  Pengolahan Skor Tes

Dalam mengelola skor tes berikut langkah-langkahnya:

  1. Menentukan distribusi frekuensi
  2. Menentukan mean, median, dan standar deviasi

2.4 Jenis-Jenis Alat Pengukur dan Penilaian Non Tes

Observasi

Observasi dilaksanakan berdasrkan pedoman observasi yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang berkaitan dengan objek yang akan diobservasi. Hasil observais akan direkam dengan alat perekam yaitu checlist, rating scale, atau alat yang lain yang dapat digunakan dalam merekam data observasi secara valid dan reliabel.

Studi Kasus

Studi kasus merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan dalam assesmen. Misalnya hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan akademik atau perkembangan dan perttumbuhan seorang anak yang telah direkam dalam berbagai bentuk dokumen seperti: umur berapa anaka dapat berjalan, berlari, apakah ada kesulitan dalam tumbbuh kembang anaka tersebut.

Analisis Terhadap Sampel Kerja

Salahsatunya yaitu portofolio, yang berisi kumpulan dari sampel kinerja anak di berbagai bidang seperti matematika, emngarang, seni, olah raga, dll.

2.5  Karakteristik Pengukuran dan Penilaian

Dalam pengukuran dan penilaian harus dilandasi dengan alat ukur yang valid dan reliabel.

Validitas

Validitas alat pengiukuran, misalnya tes, berkaitan tingkat ketepatan tes yang digunakan untuk mengukur apa yang harus diukur. Validitas alat pengukuran dan penilaian terdiri dari beberapa jenis (Gray, 1980:16667-172) yaitu:

  1. Content validity
  2. Construct validity
  3. Concutrent validity
  4. Perdiktive validity

Reliabilitas

Berkaitan dengan konsistensi, maksudnya instrumen yang digunakan memberikan hasil yabg sama apabila instrumen tersebut diberikan lagi pada siswa yang telah mengikuti kegiatan pengukuran dengan alat pengukur yang sama.

Berikut petunjuk bagi guru untuk mengembangkan instrumen yang reliabel:

  1. Memperbanyak item tes
  2. Menentukan tingkat kesulitan yang optimum
  3. Menulis item tes secara jelas
  4. Atmosphere yang konndusif
  5. Skor yang objektif

 2.6 Tujuan dan Penggunaan Penilaian dan Pengukuran dalam Pendidikan

Tujuan dan kegunaan penilaian pendidikan termasuk perencanaan, pengelolaan, proses dan tindak lanjut pendidikan baik yang menyangkut perorangan, kelompok maupun kelembagaan. Menurut Thorndike dan Hagen (1977) tujuan dan kegunaan penilaian pendidikan dapat diarahkan kepada keputusan-keputusan yang menyangkut (1) pengajaran (2) hasil belajar (3) Diagnosis dan usaha perbaikan (4) penempatan (5) seleksi (6) bimbingan dan konseling, (7) kurikulum, dan (8) penilaian kelembagaan.

1. Keputusan dalam Bidang Pengajaran

Salah satu peranan penting usaha pengukuran dan penilaian ialah untuk mengarahkan pengambilan keputusan yang berkenaan dengar, apa yang harus dipelajari atau apa yang harus dipelajari dan dipraktekkan oleh para mahasiswa secara perorangan, kelompok-kelompok kecil, ataupun keseluruhan kelas. Untuk keperluan ini maka pengukuran dan penilaian harus mampu mengindentifikasikan kompetensi-kompetensi mana yang sudah ada dan belum ada pada mahasiswa, yang selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk menetapkan isi pengajaran yang berikutnya

2. Keputusan Tentang Hasil Belajar

Tenaga pengajar mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan hasil belajar yang dicapai oleh mahasiswa yang telah belajar itu, dan bahkan jika diperlukan juga perlu memberikan laporan kepada orang tua atau wali mahasiswa tentang hasil belajar mahasiswa itu. Pemberitahuan dan laporan hasil belajar ini diinginkan meliputi aspek-aspek yang luas antara lain pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang cukup mewakili tujuan-tujuan pengajaran atau perkuliahan yang diprogramkan oleh perguruan tinggi.

3. Keputusan dalam Rangka Diagnosis

Tes diagnotik diselenggarakan untuk mengetahui dalam bidang mana mahasiswa telah atau belum mengusai kompetensi tertentu, atau dengan kata lain, tes diagnostik berusaha mengungkapkan kekuatan atau kelemahan dalam bidang yang diujikan.

4. Keputusan Berkenaan dengan Penempatan

Pengajaran ataupun pelayanan yang diberikan kepada mahasiswa tersebut tidak diberikan secara sama rata kepada semua mahasiswa. Mahasiswa yang satu barangkali memerlukan pengajaran ataupun pelayanan yang lebih banyak dari pada mahasiswa yang lain. Keperluan mahasiswa tidak sama ini sering mendorong pengajar untuk mengadakan pengelompokkan setara (homogeneous prouping). Kelompok-kelompok setara yang masing-masing memiliki taraf kemampuan yang berbeda-beda itu kemudian diberi pengajaran yang sesuai dengan taraf kemampuan masing-masing kelompok.

5. Keputusan Berkenaan dengan Seleksi

Seleksi biasanya dihubungkan dengan jumlah tempat yang tersedia dalam kaitannya dengan jumlah calon yang mendaftarkan untuk mengisi tempat itu, sedangkan secara ideal seleksi dihubungkan dengan mutu lulusan yang diambil biasanya didasarkan atas batas lulus.

6. Keputusan Berkenaan dengan Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah agar mampu mengenali dan menerima diri sendiri, serta atas dasar pengenalan dan penerimaan diri ini mahasiswa mampu mengambil keputusan untuk diri sendiri, mengarahkan dan mewujudkan diri sendiri sesuai dengan bakat, kemampuan dan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya sendiri dan lingkungannya.

7. Keputusan Berkenaan dengan Kurikulum

Program pendidikan yang komprehensif dan luwes (fleksibel) isi kurikulum dan rancangan pengajaran-pengajaran beserta berbagai sarana penunjangnya tidaklah tunggal, melainkan tersedia beberpa (atau bahkan berbagai) kemungkinan, perubahan dalam penekanan isi kurikulum, dalam prosedur dan sarana pengajran dimungkinkan.

8. Keputusan Berkenaan dengan Penelitian Kelembagaan

Ada lembaga pendidikan yang menyebabkan siswa-siswinya telah banyak yang putus sekolah atau yang baru menamatkan siswa-siswa itu menjalani masa belajar jauh melampaui batas masa belajar yang normal. Ada lagi lembaga pendidikan yang hanya mampu menghasilkan para lulusan yang (dilihat dari hasil belajar mereka) berprestasi sekitar rata–rata saja. Hal ini semua dapat diketahui penelaahan hasil pengukuran dan pendidikan.

Daftar Pustaka

Gray R.L. Educational & Evaluation Measurement: Competencies for Analysis and Application. Columbus: Charles E. Merill Publishing Company, A Bell & Howel Company. 1980

Jamaris, Martini. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Yayasan Penamas Murni. Jakarta. 2010

Wikipedia (2010, Nopember 27). Pengukuran[Online] Available: http://en wikipedia. org

Google (2010, Desember 05), Penialian dan Pengukuran dalam pendidikan (Online) Available:http://google.co.id

Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s