MODEL-MODEL KURIKULUM

1. MODEL ADMISTRATIF Smith, Stanley, Shores
Model admistratif pengembangan kurikulum menggunakan prosedur atas-bawah, lini staf (Topdown, line-staff procedure). Inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat tingkat atas (Superintendent). Pejabat tersebut membuat keputusan tentang kebutuhan suatu program pengembangan kurikulum dan implementasinya, lalu mengadakan pertemuan dengan staf lini (bawahannya) dan meminta dukungan dari dewan pendidikan (Board of education). Langkah berikutnya adalah membentuk suatu panitia pengarah yang terdiri dari pejabat administratif tingkat atas, seperti asisten superintendent, principals, supervisor, dan guru-guru inti. Panitia pengarah merumuskan rencana umum, mengembangkan panduan kerja, dan menyiapkan rumusan filsafat dan tujuan bagi seluruh sekolah didaerahnya (District). Disamping itu, panitia pengarah dapat mengikutsertakan organisasi diluar sekolah / tokoh masyarakat sebagai panitia penasehat yang bekerja bersama dengan personel sekolah dalam rangka merumuskan berbagai rencana, petunjuk dan tujuan yang hendak dicapai.
Setelah kebijakkan kurikulum dikembangkan, maka panitia pengarah memilih dan menugaskan stafpengajar sebagai panitia pelaksana (panitia kerja) yang bertanggung jawab mengkonstruksikan kurikulum. Panitia im merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum, isi (materi), kegiatan-kegiatan belajar dan sebagainya sesuai dengan pedoman / acuan kebijakan yang telah ditentukan oleh panitia pengarah. Panitia mengerjakan tugasnya diluar jam kerja biasa dan tidak mendapat kompensasi. Kondisi ini diterapkan karena berkaitan dengan tanggung jawab guru untuk memahami dengan benar kurikulum dan meningkatkan mutu kurikulum itu sendiri.
Setelah panitia kerja (guru-guru) melaksanakan penyusunan kurikulum melalui proses tertentu, selanjutnya kurikulum yang dihasilkan tersebut direvisi oleh panitia pengarah atau panitia tingkat atas lainnya sesuai dengan maksud diadakannya review tersebut. Panitia ini melaksanakan berbagai fungsi-fungsi, sebagai berikut:
1)Memberi koherensi pada ruang lingkup dan urutan dalam program bidang studi dengan koordinasi bersama panitia guru-guru masing-masing bidang;

2)Memeriksa kesesuaiannya dengan kebijakan kurikulum yang telah ditetapkan oleh panitia pengarah;

3)Menyiapkan gaya dan bentuk susunan material yang siap untuk dipublikasikan

Rencana kurikulum yang sudah direvisi dan final tersebut selanjutnya ditugaskan kepada suatu panitia yang terdiri dari para admimstrator (principals) dan guru-guru untuk melaksanakannya dalam rangka uji coba. Para pelaksana adalah tenaga profesional yang tidak dilibatkan dalam penyusunan kurikulum (mencakup filsafat rasional, tujuan dan metodologinya) uji coba dilaksanakan dalam kondisi pengajaran senyatanya dan keefektifannya dimonitor dengan cara kunjungan kelas, diskusi, evaluasi siswa dan alat-alat lainnya. Berdasarkan hasil uji coba dilakukan modifikasi, dan selanjutnya kurikulum baru tersebut diresmikan pelaksanaanya secara nyata dalam sistem sekolah.
Kelemahan model ini terdapat pada tiga hal, yakni :
1.Pada prinsipnya pengembangan kurikulum dengan model ini bersifat tidak demokratis, Karena prakarsa, inisiatif dan arahan dilakukan melalui garis staf hirarkis dari atas ke bawah, bukan berdasarkan kebutuhan dan aspirasi dari bawah ke atas.

2.Pengalaman menunjukkan bahwa model ini bukan alat yang efektif dalam perubahan kurikulum secara signifikan, karena perubahan kurikulum tidak mengacu pada perubahan masyarakat, melainkan semata-mata melalui manipulasi organisasi dengan pembentukkan macam-macam kepanitian.

3.Kelemahan utama dari model administratif adalah diterapkannya konsep dua fase, yakni konsep yang mengubah kurikulum lama menjadi kurikulum baru secara uniform melalui sistem sekolah dalam dua fase sendiri-sendiri, yakni penyiapan dokumen kurikulum baru, dan fase pelaksanaan dokumen kurikulum tersebut.

2. MODEL GRASS ROOTS Smith, Stanley, Shores
Model Grass Roots (Akar Rumput) atau arus bawah, berbeda dengan model administratif dalam beberapa hal yang berarti. Misalnya model Grass Roots diawali oleh para guru, pembina di sekolah dengan mengabaikan metoda pembuatan keputusan kelompok secara demokratis dan di mulai dari bagian-bagian yang lemah (rusak) kemudian diarahkan untuk memperbaiki kurikulum tertentu (spesifik) atau kelas-kelas tertentu.
Orientasi yang demokratis dari rekayasa Model Grass Roots bertanggung jawab membangkitkan apa yang menjadi dua aksioma kemantapan sebuah kurikulum :
1.Bahwa sebuah kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru-guru dilibatkan secara intim dengan proses pembuatan (konstruksi) dan pengembangannya.
2.Bukan hanya para professional, tetapi murid, orang tua, anggota masyarakat lain harus dimasukkan dalam proses pengembangan kurikulum.
Prinsip Prinsip Model Grass Roots
Guru adalah sebagai kunci dalam rekayasa kurikulum yang efektif, digambarkan pada 4 prinsip yang menjadi dasar Model Grass Roots, yaitu :
1.Kurikulum akan baik apabila kemampuan profesioanl guru baik
2.Kompetensi guru akan membaik apabila guru terlibat secara pribadi dalam masalah-masalah peibaikan (revisi) kurikulum
3.Jika guru urun rembug dalam membentuk tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam memilih, mendefinisikan, memecahkan masalah yang akan dihadapi, mempertimbangkan dan menilai hasil maka keterlibataimya paling terjamin.
4.Karena orang bertemu dalam kelompok, tatap muka, mereka akan dapat memahami satu sama lain lebih baik dan untuk mencapai suatu konsensus berdasarkan prinsip-prinsip dasar, tujuan-tujuan dan rencana-rencana.
Dalam pelaksanaan kegiatannya, para administrator cukup memberikan bimbingan dan dorongan saja, sehingga guru-guru dapat melaksanakan tugas pengembangan kurikulumnya secara demokratis. Biasanya pada langkah-langkah tertentu diselenggarakan lokakarya untuk membahas langkah-langkah yang telah berhasil dicapai dan menyiapkan program selanjutnya. Dalam lokakarya ini, selain guru-guru, ada juga kepala sekolah, orang tua siswa, tokoh masyarakat, konsultan, dan sumber-sumber lainnya.

Model Grass Roots

3.MODEL DEMONSTRASI Smith, Stanley, Shores
Model ini dikembangkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kurikulum dalam skala kecil. Dalam pelaksanaannya, model ini menuntut sejumlah guru dalam satu sekolah untuk mengorganisasikan dirinya dalam pembaharui kurikulum. Menurut Smith, Stanley dan Shores, model demonstrasi terdiri atas dua bentuk, yaitu :
a.Dalam bentuk pertama yang cendrung bersifat formal, sekelompok guru diorganisasikan dalam suatu sekolah secara terpisah. Tugas mereka adalah mengembangkan proyek percobaan kurikulum. Tujuannya sama seperti tim penelitian dan pengembangan secara internal, yaitu untuk menghasilkan segmen baru dalam kurikulum sekolah. Dalam bentuk pertama ini, inisiatif dan organisasi kurikulum berasal dari atas sehingga model ini dianggap sebagai representasi variasi model administrasi.
b.Dalam bentuk kedua dianggap kurang formal dibandingkan dengan bentuk pertama karena guru-guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada membuat eksperimen d dalam area tertentu. Mereka bekerja dalam bentuk organisasi tak terstruktur atau bekerja sendiri – sendiri. Tujuaan untuk menghasilkan alternative praktik kurikulum. Jika eksperimen berhasil, maka diusulkan untuk diadopsi penggunaannya di seluruh sekolah.
Dengan demikian, model demonstrasi dapat dilaksanakan baik secara formal amupun tidak formal. Keuntungan model demonstrasi antara lain :
1.Disebabkan kurikulum yang dihasilkan telah melalui ujicoba dalam praktik yang nyata, maka dapat memberikan alternative yang dapat bekerja.
2.Perubahan kurikulum pada bagian tertentu cendrung lebih mudah disepakati dan diterima daripada perubahan secara keseluruhan.
3.Mudah untuk mengatasi hambatan
4.Menempatkan guru sebagai pengambil insiatif dan nara sumber sehingga para administrator dapat mengarahkan minat dan kebutuhan guru untuk mengembangkan program-program baru. Guru-guru yang tidak terlibat di dalam proses pengembangan cendrung bersikap apatis, curiga, tidak percaya, dan cemburu. Akibatnya mereka akan menerima kurikulum baru itu dengan setengah hati.

Model Demonstrasi

4.MODEL BEAUCHAMP
Model pengembangan kurikulum ini sesuai dengan nama orang yang menciptakannya yaitu seorang ahli kurikulum yang benama Beauchamp. Menurut Beauchamp untuk merancang sebuah kurikulum harus ditempuh lima langkah berikut:
1.Pejabat pemerintah yang berwenang dalam pengembangan kurikulum harus menentukan lebih dahulu lokasi atau wilayah yang akan dijadikan pilot proyek untuk pengembangan kurikulum. Pemilahan lokasi atau wilayah yang ditentukan sesuai dengan skala pengembangan kurikulum yang telah direncanakan. Bila kurikulum yang ingin dikembangkan berskala makro atau nasional, maka wilayah atau lokasi yang akan dijadikan pilot proyek adalah propinsi, seandainya bersifat daerah atau berskala mikro maka kabupaten dapat dijadikan lokasi pilot proyek.
2.Setelah wilayah atau lokasi yang akan menjadi pilot proyek sudah ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah menentukan personalia yang akan ikut terlibat di dalam pengembangan kurikulum. Beauchamp melibatkan orang-orang dari staf ahli kurikulum, pakar kurikulum dari perguruan tinggi dan guru-guru sekolah yang telah dipilih, pakar pendidikan, masyarakat yang dihimpun dari berbagai kalangan yaitu dari pengarang atau penulis, penerbit, politikus, pejabat pemerintah, pengusaha dan industriawan
3.Bila personalia sudah disusun dengan baik maka langkah berikutnya adalah pengorganisasian person-person tersebut dalam lima (5) tim yang terdiri dari :
1. Tim pengembang kurikulum
2. Tim peneliti kurikulum yang sedang dipakai atau sedang dipergunakan
3. Tim untuk mempelajari kemungkinan penyusunan kurikulum bam
4. Tim perumus untuk kriteria-kriteria kurikulum yang akan disusun.
5. Tim penyusun dan penulis kurikulum baru
Sedangkan prosedur kerja yang akan dilalui adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan tujuan baik tujuan umum maupun tujuan khusus
b. Memilih atau menseleksi materi
c. Menentukan pengalaman belajar
d. Menentukan kegiatan dan evaluasi
e. Menentukan desain
4. Pada langkah ini ditentukan implementasi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum mempakan pekerjaan yng cukup rumit karena membutuhkan kesiapan dalam banyak hal, seperti guru sebagai pelaksana kurikulum dikelas, fasilitas, siswa, dana, manajerial pimpinan sekolah atau administrator sekolah.
5. Setelah semua kebutuhan untuk kepentingan pelaksanaan atau implementasi terpenuhi dan sudah dapat dilaksanakan, maka langkah berikutnya yang merupakan langkah terakhir dari pengembangan kurikulum model beauchamp adalah mengevaluasi kurikulum.
Beauchamp mengemukakan hal-hal yang harus dievaluasi, yaitu :
a. Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru
b. Evaluasi terhadap desain kurikulum
c. Evaluasi terhadap hasil belajar siswa
d. Evaluasi terhadap sistem dalam kurikulum
Hasil dari kegiatan evalusi ini akan dijadikan untuk penyempumaan desain sistem serta prinsip-prinsip pelaksanaannya. Suatu hal yang perlu diingat bahwa pada tahap atau langkah kedua berupa organisasi dan prosedur Beauchamp, tampaknya menerangkan keterlibatan kelompok-kelompok personalia sehingga timbul pertanyaan-pertanyan sebagai berikut :
Haruskah kelompok ahli, pejabat, profesi yang telah disebutkan diatas dilibatkan dalam pengembangan kurikulum? Apabila jawaban dari pertanyaan tersebut ya, maka apa saja peranan mereka itu? Apakah mungkin didapatkan alat dan teknik yang paling efektif untuk melakukan peran tersebut? dengan demikian tergambar bahwa sebaiknya wilayah atau lokasi pilot proyek diambil dari wilayah kecil saja, dan semakin kecil wilayah maka keterlibatan dan peranan guru akan semakin besar. Guru harus berperan secara ikhlas dengan menunjukaan sikap dan rasa saling, menghormati dalam memberikan pelajaran dan diluarjam pelajaran.

Model Pengembangan Kurikulum Beauchamp

5.MODEL TRANSMISI GAGNE dan BRIGGS
Gagne and Briggs menggambarkan suatu model pengembangan kurikulum berdasarkan tekhnologi pendidikan. Model transmisi yang dikembangkan dilandasi oleh konsep-konsep sebagai berikut :
1.Menekankan perbedaan individual. Hal ini terlihat pada program pembelajaran yang menggunakan selft-instructional, program Branching, dan konsep Product testing yang menggunakan hardware.
2.Menekankan pada psikologi perkembangan, berkaitan dengan prilaku siswa dan teori belajar yang ditekankan pada hubungan penguatan dengan mesin pengajaran.
3.Menekankan pada penggunaan media, berupa media ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang bersifat fisik dan non fisik.
Gagne menganjurkan pendekatan system untuk merancang desain pengajaran berdasarkan alur berfikir logis, sistematik, empiris, dan selalu mengedepankan data/fakta. Terdapat 12 langkah pengembangan model kurikulum yaitu : analisis kebutuhan, analisis tujuan, analisis cara memenuhi kebutuhan, merancang komponen pengajaran, analisis sumber belajar dan pengontrolan, menyeleksi atau mengembangkan instrument prilaku siswa, uji lapangan dan evaluasi formatif, revisi, evaluasi sumatif dan instalasi operasional.

6.MODEL TYLER
Dalam bukunya yang berjudul Basic Principles of Cumculum and Intruducion, Tyler merumuskan empat pertanyaan sentral yang meminta jawaban secara rasional bagi perencanaan kurikulum ialah :
1. Apa tujuan yang harus dicapai oleh sekolah?
2. Apa pengalaman-pengalaman belajar yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut?
3. Bagaimana mengorganisasikan pengalaman-pengalaman tersebut?
4. Bagaiman kita dapat memutuskan apakah tujuan-tujuan tersebut tercapai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan, bahwa perencanaan kurikulum dapat menjadi suatu proses yang dikontrol dan logis, dimana langkah pertama adalah yang paling penting. Kerangka kerja ini besar pengaruhnya di USA, karena keputusan-keputusan utama mengenai isi kurikulum dibuat oleh dewan pendidikan setempat (lokal). Dengan kerangka kerja ini, publik dapat menilai pekerjaan sekolah dengan membandingkan antara tujuan-tujuan dengan hasil yang dicapai.

Pengembangan kurikulum model Tyler ini mungkin yang terbaik, dengan penekanan khusus pada fase perencanaan. Walaupun Tyler mengajukan model pengembangan kurikulum secara komprehensif tetapi bagian pertama dari modelnya (seleksi tujuan) menerima sambutan yang hangat dari para edukator.
Langkah-langkah pengembangan kurikulum:
Langkah l :
Tyler merekomendasikan, bahwa perencana kurikulum agar mengidentifikasikan tujuan umum (tentative general objectives) dengan mengumpulkan data dari tiga sumber, yaitu : kebutuhan peserta didik, masyarakat (fungsi yang diperlukan) dan subject matter.
Langkah 2:
Setelah mengidentifikasi beberapa buah tujuan umum, perencana merifinenya dengan cara menyaring melalui dua saringan, yaitu filosofi pendidikan dan psikologi belajar. Hasilnya akan menjadi Tujuan pembelajaran khusus dan meyebutkannya juga pendidikan sekolah dan filosofi masyarakat sebagai saringan pertama untuk tujuan ini. Selanjutnya perlu disusun garis-garis besar nilai-nilai yang didapat dan mengilustrasikannya dengan memberi tekanan pada empat tujuan demokratis. Untuk melaksanakan penyaringan, para pendidik harus menjelaskan prinsip-prinsip belajar yang baik, dan psikologi belajar memberikan ide mengenai jangka waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan waktu untuk melaksanakan kegiatan secara efesien. Tyler pun menyarankan agar pendidik memberi perhatian kepada cara belajar yang dapat :
• Mengembangkan kemampuan berpikir
• Menolong dalam memperoleh informasi
• Mengembangkan sikap masyarakat
• Mengembangkan minat
• Mengembangkan sikap kemasyarakatan
Langkah 3:
Menyeleksi pengalaman belajar yang menunjang pencapaian tujuan. Penentuan pengalaman belajar harus mempertimbangkan persepsi dan pengalaman yang telah dimililiki oleh peserta didik.
Langkah 4:
Mengorganisasikan pengalaman kedalam unit-unit dan menggambarkan berbagai prosedur evaluasi.
Langkah 5:
Mengarahkan dan mengurutkan pengalaman-pengalaman belajar dan mengkaitkannya dengan evaluasi terhadap keefektifan perencanaan dan pelaksanaan.
Langkah 6:
Evaluasi pengalaman belajar. Evaluasi merupakan komponen penting dalam pengembangan kurikulum.
Sehubungan dengan hal tersebut Tyler (1949) memperingatkan agar dibedakan antara konten (isi) pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar dengan pengalaman-pengalaman belajar, karena pengalaman belajar merupakan pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan interaksi mereka dengan konten (isi) dan kegiatan belajar. Untuk mengembangkan pengalaman belajar yang mereka peroleh harus bermuara pada pemberian pengalaman para pelajar yang dirancang dengan baik dan dilaksanakan dengan benar. Dari beberapa konsepsi kurikulum diatas kelihatan bahwa kurikulum dapat dilihat dari segi yang sempit atau dari segi yang luas (sebagai pengalaman yang diperoleh di sekolah atau diluar sekolah).

Model Tyler

7.MODEL MILLER – SELLER
Model kurikulum ini termasuk model kurikulum yang paling klasik dan mendasari model-model yang lain. Dalam bukunya yang mahsyur yaitu; basic principles of Curriculum and Instruction. Tyler merekomendasikan bahwa perencana kurikulum untuk mengindetifikasi tujuan umum dengan mengumpulkan data dari tiga sumber : siswa, kehidupan kontemporer di luar sekolah, dan mata pelajaran. Setelah mengindetifikasi beberapa tujuan umum, perencana kurikulum mengisi dengan memilah menjadi dua aliran utama; pendidikan dan filsafat pendidikan bagi sekolah dan psikologi pembelajaran. Tujuan umum dengan meningkatkan menjadi tujuan instruksional khusus. Dalam menggambarkan tujuan umum, Tyler merujuknya sebagai tujuan, tujuan pendidikan jangka menengah dan tujuan pendidikan jangka panjang. Tyler merumuskan empat pertanyaan sentral yang meminta jawaban secara rasional bagi perencanaan kurikulum ialah :
1. Apa tujuan yang harus dicapai oleh sekolah ?
2. Apa pengalaman-pengalaman belajar yang dapat disediakan untuk mencapai tujuantujuan tersebut
3. Bagaimana mengorganisasikan pengalaman-pengalaman tersebut
4. Bagaimana kita dapat memutuskan apakah tujuan-tujuan tersebut tercapai .
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan, bahwa perencanaan kurikulum dapat menjadi suatu proses yang dikontrol dan logis, dimana langkah pertama adalah yang paling penting. Kerangka kerja ini besar pengaruhnya di USA, karena keputusan-keputusan utama mengenai isi kurikulum dibuat oleh dewan pendidikan setempat(lokal). Dengan kerangka kerja ini, publik dapat menilai pekerjaan sekolah dengan membandingkan antara tujuan – tujuan dengan hasil yang dicapai. Pengembangan kurikulum model Tyler ini mungkin yang terbaik, dengan penekanan khusus pada fase perencanaan. Walaupun Tyler mengajukan model pengembangan kurikulum secara komprehensif tetapi bagian pertama dari modelnya(seleksi tujuan) menerima sambutan yang hangat dari pada pendidikan.
Langkah – langkah Pengembangan Kurikulum :
1. Tyler merekomendasikan, bahwa perencana kurikulum agar menindetifikan tujuan umum( tentative general objectives ) dengan mengumpulkan data dari tiga sumber, yaitu : kebutuhan peserta didik, masyarakat ( fungsi yang diperlukan), dan subject matter.
2. Setelah mengidentifikasikan beberapa buah tujuan umum, perencana merifinenya dengan cara menyaring melalui dua saringan, yaitu filosofi pendidikan dan psikologi belajar. Hasilnya akan menjadi tujuan pembelajaran khusus dan menyebutkan juga pendidikan sekolah dan filosofi masyarakat sebagi saringan pertama untuk tujuan ini.
Selanjutnya perlu disusun garis-garis besar nilai-nilai yang didapat dan mengilustrasikan dengan memberi teknan pada empat tujuan demokratis. Untuk melaksanakan penyaringan, para peserta didik harus menjelaskan prinsip-prinsip belajar yang baik, dan psikologi belajar membeirkan ide melaksanakan kegiatan secara efisien. Tyler pun menyarankan agar pendidikan memberi perhatian kepada cara belajar yang dapat :
• Mengembangkan kemampuan belajar
• Menolong dalam memperoleh informasi
• Mengembangkan sikap masyarakat
• Mengembangkan minat
•Mengembangkan sikap kemasyarakatan
3. menyelaksi pengalaman belajar yang menunjang pencapaian tujuan. Penentuan pengalaman belajar harus mempertibangkan persepsi dan pengalaman yang telah dimiliki olehpesertadidik.
4. Mengorganisasikan pengalaman belajar ke dalam unit-unit dan menggambarkan barbagai prosedur evaluasi.
5. Mengarahkan dan mengurutkan pengalaman-pengalaman belajar dan mengaitkan dengan evaluasi terhadap keefektifitan perencanaan dan pelaksanaan.
6. Evaluasi pengalaman belajar. Evaluasi merupakan komponen penting dalam pengembangankurikulum.
Sehubungan dengan hal tersebut Tyler (1949) memperingatkan agar dibedakan antara konten ( isi) pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar dengan pengalaman belajar, karena pengalaman belajar merupakan pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan interaksi mereka dengan konten(isi) dan kegiatan belajar. Untuk mengembangkan pengalaman belajar yang mereka peroleh harus bermuara pada pemberian pengalaman para belajar yang dirancang dengan baik dan dilaksanakan dengan benar. Dari beberapa konsepsi kurikulum diatas kelihatan bahwa kurikulum dapat dilihat dari segi yang sempit atau dari segi yang luas ( sebagai pengalaman yang diperoleh di sekolah atau diluar sekolah ).

8.MODEL OLIVIA
Menurut Oliva dalam membuat rencana tentang perkembangan kurikulum terbagi menjadi tiga kriteria; sederhana, komprehensif, systematik .Meskipun model ini menggambarkan beberapa proses yang berasumsi pada model sederhana.model-model ini terdiri dari 12 komponen.Kedua belas komponen menggambarkan langkah demi langkah pengembangan kurikulum yang komprehensif. Model tersebut digambarkan dalam bentuk segi empat dan lingkaran. Segi empat menggambarkan tentang proses perencanaan sedangkan lingkaran menggambarkan proses operasional.
Proses dimulai dengan komponen I, karena pada fase ini para pengembang kurikulum menentukan tujuan dari pendidikan serta landasan filosophy dan psikologi.Tujuan ini diyakini berasal dari kebutuhan masyarakaty dan kebutuhan hidup individu dimasyarakat. Komponen ini menggabungkan konsep yang sama dengan Tyler.
Komponen II membutuhkan sebuah analisis kebutuhan masyarakat dimana suatu sekolah berada, kebutuhan siswa dilayani oleh masyarakat. Komponen III dan IV disebut sebagai tujuan khusus kurikulum berdasarkan tujuan, keyakinan. Tugas dari komponen V adalah untuk mengorganisir dan mengimplementasikan kurikulum, membentuk dan membangun struktur dengan kurikulum yang akan diorganisir.
Pada komponen VI dan VII melukiskan perincian lebih lanjut dalam pelaksanaan lewat pengajaran yang mencakup tujuan instruksional umum dan khusus. Komponen VIII menunjukkuan strategi agar tujuan tercapai dikelas. Sekaligus dalam fase ini pembina kurikulum secara pendahuluan mencari teknik evaluasi (komponen IX) yang dilanjutkan dengan komponen X dimana pembelajaran dilaksanakan. KomponenXI adalah evaluasi sesungguhnya mengenai prestasi siswa, keefektifan pengajaran.
Komponen XII merupakan evaluasi kurikulum atau keseluruhan program.hal terpenting adalah umpan balik dari setiap evaluasi untuk pengembangan lebih lanjut.Jadi inti dari semua komponen adalah komponen I sampai IV dan VI sampai IX adalah tahap perencanaan, sementara X-XII adalah tahap operasional. Komponen V merupakan perpaduan antara perencanaan dan operasional. Model Oliva dapat dipandang terdiri dari dua submodel:komponen I-V dan XII sebagai submodel pengembangan kurikulum.Komponen VI-XI sebagai model pengembangan pengajaran.
Secara terperinci model tersebut mengikuti langkah-langkah berikut :
1. Spesifikasi kebutuhan siswa umumnya
2. Spesifikasi kebutuhan masyarakat
3. Pernyataan filsafat dan tujuan pendidikan
4. Spesifikasi kebutuahn siswa tertentu
5. Spesifikasi kebutuhan masyarakat lingkungan sekolah
6. Spesifikasi kebutuhan mata pelajaran
7. Spesifikasi tujuan kurikulum sekolah
8. Spesifikasi tujuan kurikulum sekolah lebih lanjut(lebih khusus)
9. Organisasi dan implementasi kurikulum
10. Spesifikasi tujuan instruksional umum
11. Spesifikasi lebih lanjut dan khusus tujuan instruksional
12. Seleksi strategi instruksional
13. Seleksi awal strategi evaluasi
14. Implementasi pengajaran/instruksional
15. Seleksi akhir strategi evaluasi
16. Evaluasi pengajaran dan modifikasi komponen-komponennya
17. Evaluasi kurikulum dan modifikasi komponen-komponen kurikulum

9.MODEL RELATION INTERPERSONAL ROGERS

Model ini berasal dari seorang psikolog Carl Rogers. Dia berasumsi bahwa kurikulum diperlukan dalam rangka mengembangkan individu yang terbuka, luwes dan adaptif, terhadap situasi perubahan. Kurikulum demikian hanya dapat disusun dan diterapkan hanya oleh pendidik yang terbuka, luwes, dan berorientasi pada proses. Untuk itu diperlukan pengalaman kelompok dalam melatih hal-hal yang bersifat sensitif. Setiap kelompok terdiri atas 10 – 15 orang dengan seorang fasilitator atau pemimpin. Kelompok tersebut hendaknya tidak berstruktur, tetapi harus menyediakan lingkungan yang memungkinkan seseorang dapat berekspresi secara bebas dan ada pula kemungkinan berkomunikasi interpersonal secara luas.
Langkah – langkah dalam model ini adalah :
1.Memilih suatu sasaran administrator dalam system pendidikan dengan syarat bahwa individu yang terlibat hendaknya ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelompok secara intensif agar mereka dapat berkenalan secara akrab.
2.Mengikutsertakan guru-guru dalam pengalaman kelompok secara intensif.
3.Mengikutsertakan unit kelas dalam pertemuan lima hari. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan pertemuan intensif antara guru dengan peserta didik lainnya secara akrab dalam suasana bebas berekspresi.
4.Menyelenggarakan pertemuan secara interpersonal antara administrator, guru dan orang tua peserta didik. Tujuan utamanya adalah agar orang tua, guru dan kepala sekolah bias saling mengenal secara pribadi sehingga memudahkan pemecahan masalah di sekolah.
5.Pertemuan vertical yang mendobrak hirarki, birokrasi, dan status social. Melalui cara ini diharapkan keputusan-keputusan dalam pengembangan kurikulum akan lebih baik mendekati realitas karena diselenggarakan dalam suasana bebas tanpa tekanan.

Model Interpersonal Relation Rogers

10.MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Tiga factor utama yang dijadikan bahan pertimbangan dalam model ini adalah adanya hubungan antar manusia, organisasi sekolah dan masyarakat, serta otoritas ilmu.
Langkah – langkah yang dijadikan bahan pertimbangn dalam model ini adalah :
a. Merasakan adanya suatu masalah dalam kelas atau sekolah yang perlu diteliti secara mendalam.
b. Mengidentifikasi factor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.
c. Merencanakan secara mendalam tentang bagaimana pemecahan masalah.
d. Menentukan keputusan-keputusan apakah yang perlu diambil sehubungan dengan masalah tersebut.
e. Melaksanakan keputusan yang telah diambil dan menjalankan rencana yang telah disusun.
f. Mencari fakta secara meluas
g. Menilai tentang kekuatan dan kelemahannya

11.MODEL SUMBER UNIT- HAROLD ALBERTY

Harold B Alberty menganjurkan langkah dalam pengembangan suatu unit sumber:
1. Falsafah dan tujuan
2. Scope
Berisi konsep, prinsip atau masalah serta batasan unit, harus cukup luas dan meliputi semua aspek masalah sebagai hasil analisis pokok atau judul unit sumber.
1. Kegiatan belajar
Di bagian ini diberikan sebanyak–banyaknya saran tentang kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa, secara individual maupun dalam kelompok serta harus dilakukan dengan banyak ragam. Contohnya melakukan kegiatan kreatif dan konstruktif, forum dan diskusi, permainan peranan, psiko dan sosiodrama, sandiwara kelas, menggambar, melihat video atau film, mendengarkan rekaman, melakukan karyawisata, membentuk kumpulan sosial, ekonomi, dan sebagainya.
2. Bibliografi dan alat belajar
Tiap unit sumber harus berisi bahan referensi serta alat – alat belajar yang luas serta beraneka ragam dengan catatan agar sumber dan alat itu dapat digunakan efektif.
3. Evaluasi
Prosedur dan alat evaluasi dipilih berkenaan dengan tujuan yang dirumuskan dan menjadi bagian yang integral dari unit sumber.
Alat evaluasi yang dapat digunakan antara lain:
– Test
– Catatan tentang observasi kelakuan siswa
– Catatan, buku harian, hasil penilaian diri oleh siswa,
– Analisis pekerjaan dan proyek yang dilakukan siswa
– Catatan oleh guru dan staf administrasi sekolah
– Analisis pekerjaan tertulis dan lisan
– Laporan tentang observasi oleh orang tua
4. Saran–saran tentang cara menggunakan unit sumber
Unit sumber harus memuat petunjuk–petunjuk dan saran–saran tentang cara penggunaan unit itu. Namun saran–saran itu tidak boleh mengikat berupa patokan–patokan yang harus diikuti.

12.MODEL SISTEMATIK J ROMSZOWSKI

Model ini menggunakan pendekatan system ( system Approach ). Pendekatan sistemik dalam pengembangan suatu kurikulum adalah suatu pendekatan yang menitikberatkan pada struktur dan keteraturan yang direncanakan sejak awal untuk menghasilkan sesuatu yang spesifik. Model sistemik ini dapat digunakan untuk mengembangkan program pendidikan kurikulum, desain pembelajaran, dan desain program pelatihan.
Prosedur pengembangan kurikulum model sistemik ini dilakukan dengan 14 langkah, yaitu : Deskripsi tugas, analisis tugas, menetapkan kemampuan, spesifikasi kemampuan, kebutuhan pendidikan dan latihan, organisasi dan isi. Pemilihan strategi pembelajaran, uji coba program, evaluasi, implementasi program, monitoring, perbaikan dan penyesuaian.
Penggunaan model ini dapat menjadi tawaran alternative dalam penyusunan kurikulum di tingakt satuan pendidikan khususnya pada Sekolah Menengah Kejuruan. Penerapan model ini akan menjadi suatu cirri khas satuan pendidikan melalui penyusunan desain KTSP sebagai kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

13.MODEL DESAIN SISTEM INST. BELLA H BENATHY

Secara garis besar pengembangan desain intruksional meliputi enam langkah pokok yaitu: 1.Merumuskan tujuan
2.Mengembangkan test
3.Menganalisis kegiatan belajar
4.Mendesain sistem intruksioanal
5.Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil
6.Mengadakan perbaikan

14.MODEL DESAIN SISTEM INST. JEROLD E KEMP
Model Kemp adalah sebuah pendekatan yang mengutamakan sebuah alur yang dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan program. Dimana alur tersebut merupakan rangkaian yang sistematis yang menghubungkan tujuan hingga tahap evaluasi. Komponen-komponen dalam model pembelajaran Kemp ini dapat berdiri sendiri, sehingga sewaktu-waktu tiap komponennya dapat dilakukan revisi.
Adapun langkah-langkah dari pengembangan model Kemp adalah sebagai berikut:
a. Menentukan Judul dan Tujuan Pembelajaran Umum
Langkah pertama dalam mendesain program adalah menentukan judul dan tujuan pembelajaran secara umum. Karena secara tidak langsung judul akan mempengaruhi program secara keseluruhan.
a. Menganalisis Karakteristik Siswa
Kadang kala sebuah program tidak berjalan dengan baik apabila tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Sehingga langkah menganalisis karakteristik siswa menjadi faktor penentu dalam pengembangan program. Karakteristik siswa dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan, seperti kelompok umur, pendidikan terakhir, latar belakang sosial, dan lainnya.
b. Menentukan Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah merumuskan tujuan umum dan menganalisis karakteristik siswa, maka langkah berikutnya menentukan tujuan pembelajaran secara khusus. Yang dimaksud pada langkah ini adalah perumusan yang lebih mendetail hal-hal yang sangat teknis. Dimana lebih mencakup pokok-pokok yang ingin dicapai oleh program.
c. Menentukan Materi Pembelajaran
Langkah berikutnya menentukan materi yang akan disampaikan. Materi ini bisa berupa bahan atau alat yang dapat menjabarkan isi dari program yang diinginkan.
d. Menentukan Pre Test
Pre test merupakan sebuah cara untuk mengukur sejauhmana kemampuan siswa dalam penguasaan materi yang akan diberikan. Menentukan pre test merupakan sebuah upaya untuk menjaring siswa yang sesuai dengan program.
e. Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan inti dari sebuah program. Dalam penentuan KBM ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya metode pembelajaran, seting ruangan, sarana dan prasarana, dan lainya.
f. Mengkoordinasi sarana penunjang, yang meliputi tenaga fasilitas, alat, waktu dan tenaga.
g. Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan pada model ini, dimana secara formatif program yang dikoreksi dan diperbaiki agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

15.MODEL DESAIN SISTEM INST. BRIGGS
Pengembangan desain intruksional model Briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran guru yang bekerja sebagai perancang atau desainer kegiatan intruksional maupun tim pengembang intruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang intruksional.
Model pengembangan intruksional Briggs ini bersandarkan pada prinsip keselarasan antara :
a) tujuan yang akan dicapai,
b) strategi untuk mencapainya
c) evaluasi keberhasilannya.
Langkah pengembangan dimaksud dirumuskan kedalam 10 langkah pengembangan yaitu :
1. Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan
2. Penyusunan garis besar kurikulum/rincian tujuan kebutuhan instruksional yang telah dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus dirinci, disusun dan diorganisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
3. Perumusan tujuan
4. Analisis tugas/tujuan
5. Penyiapan evaluasi hasil belajar
6. Menentukan jenjang belajar
7. Penentuan kegiatan belajar.
8. Pemantauan bersama
9. Evaluasi formatif
10. Evaluasi sumatif

Referensi

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195705101985031-ENDANG_RUSYANI/Model_Organisasi_Pengemb_Kurikulum.pdf

5 thoughts on “MODEL-MODEL KURIKULUM

  1. Terima kasih banyak atas tulisan yang Anda muat. Sangat membantu saya dalam memahami model sistem pendidikan dan perbandingannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s